[7 HABITS-#09] Kebiasaan 6 – Wujudkan Sinergi

Assalamu’alaikum wr wb,
Apakabar sahabat ayahucuB dimanapun anda berada, semoga keselamatan selalu menyertai kita semua…aamiin ya rabbal ‘alamiin.

Kali ini saya akan melanjutkan berbagi pengetahuan tentang ‘7 habits’ Episode ke-9. Di sini saya akan membahas tentang Kebiasaan ke-6 dari 7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif, yaitu ‘Wujudkan Sinergi’.
Apa yang dimaksud dengan ‘Wujudkan Sinergi’? Mengapa Kebiasaan ‘Wujudkan Sinergi’ itu Penting? Bagaimana caranya ‘Wujudkan Sinergi’? Mari kita mulai pembahasan.

Episode 09 – Kebiasan ke-6 Wujudkan Sinergi

Prinsip Kerjasama Kreatif

Latihan mempraktekan Kebiasaan 1-5 akan menyiapkan kita untuk Kebiasaan 6, Kebiasaan Sinergi. Dalam diagram 7 habits, Sinergi adalah puncak tertinggi  dalam hubungan kesalingtergantungan.  Sinergi adalah intisari dari kepemimpinan yang berpusat pada prinsip. Sinergi adalah katalisator yang dapat mengeluarkan kekuatan terbesar manusia yang unik. Sinergi 4 anugerah unik manusia, berpikir menang menang, dan berkomunikasi empatik.

Sinergi adalah keseluruhannya lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya.

Di alam ini, jika kita menanam 2 tanaman berdekatan satu sama lain, akar kedua tanaman tersebut akan berbaur menjadi satu dan meningkatkan mutu tanah sehingga kedua tanaman akan tumbuh lebih baik daripada jika keduanya dipisah. 1 + 1 = 3 atau lebih besar.

Kita belajar dari alam dalam menerapkan prinsip kerjasama kreatif.  Anak dilahirkan dari Sinergi kedua orangtuanya. Intisari dari sinergi adalah menghargai perbedaan, membangun kekuatan, mengimbangi kelemahan.

Ban, Rem, Kopling, Setir, Jok, Mesin, Kaca, Rangka, dan Part lainnya jika berdiri sendiri sendiri bukan disebut Mobil dan tidak akan tampak fungsinya. Namun bila semuanya berkolaborasi, bekerjasama, sinerginya mewujud menjadi sebuah Mobil. Mobil yang dapat mengantarkan kita mencapai suatu tujuan. Mobil yang membuat Ban, Rem, Kopling, Setir, Jok, Mesin, Rangka, dan Part lainnya menjadi tampak fungsinya, tampak keunikannya, tampak kemandiriannya.

Tantangannya adalah bagaimana kita bisa menerapkan prinsip kerjasama kreatif yang kita pelajari dari alam dalam interaksi sosial kita.

Komunikasi Sinergistik

Komunikasi secara sinergistik adalah komunikasi yang saling terbuka baik pikiran maupun hati sehingga menciptakan kreatifitas bersama dalam menemukan kemungkinan baru, alternatif baru, pilihan baru, alternatif ke-3. Akan hadir perasaan bersemangat, rasa aman, dan petualangan.

Mungkin anda pernah punya pengalaman kreatif terlibat dengan tim olahraga. Atau dalam tim proyek khusus, dalam grup band, dalam tim pementasan drama, dalam regu pramuka, komunitas sepeda, kelompok belajar dan lainnya. Dimana orang orang bekerjasama dengan semangat, merasa senasib sepenanggungan, saling melengkapi untuk mencapai tujuan bersama. Inilah contoh pengalaman dalam komunikasi sinergistik.

Sinergi Dan Komunikasi

Kepercayaan berhubungan erat  dengan tingkat tingkat yang berbeda dalam komunikasi. Ada 3 tingkatan dalam komunikasi:

  1. Tingkat Kepercayaan Rendah, Tingkat Kerjasama Rendah. Komunikasi seperti ini timbul dari situasi dengan kepercayaan rendah yang dicirikan dengan sikap defensif, mau menang sendiri, protektif, dan sering menggunakan bahasa hukum. Hasil dari komunikasi seperti ini adalah Menang/Kalah atau Kalah/Kalah.
  2. Tingkat Kepercayaan Sedang, Tingkat Kerjasama Sedang. Komunikasi yang jujur, tulus, dan penuh respek. Hasil dari komunikasi seperti ini adalah tingkat terendah dari Menang/Menang, kompromi, 1+1=1,5. Komunikasi yang penuh respek memang baik dalam situasi bebas dan mandiri, tetapi sisi kreatifnya belum muncul maksimal.
  3. Tingkat Kepercayaan Tinggi, Tingkat Kerjasama Tinggi. Inilah bentuk komunikasi yang menghasilkan Menang/Menang, yang 1 + 1 = 8, 16, atau bahkan 1600. Komunikasi yang kreatifitasnya muncul.

Memancing Untuk Mendapatkan Alternatif Ketiga

Untuk lebih memahami bagaimana tingkat komunikasi bisa mempengaruhi efektifitas hubungan kesalingtergantungan, bayangkan kisah di bawah ini.

Seorang suami ingin mengajak keluarganya liburan ke desa dekat danau untuk berkemah dan memancing. Anak anaknya ingin sekali pergi. Ia telah menyiapkan segalanya, menyewa tempat, perahu, dan rencana yang matang. Hal ini penting baginya tetapi tidak bagi istrinya. Istrinya ingin menggunakan masa liburan dengan berkunjung ke rumah ibunya yang sedang sakit. Hal ini penting bagi istrinya karena dia jarang sekali punya kesempatan berlibur dan berkunjung ke rumah ibunya.

Jika masing masing pihak tetap ngotot dengan pendiriannya dengan alasannya masing masing atau salah satunya mengalah, maka yang terbentuk adalah komunikasi Menang/Kalah atau Kalah/Kalah. Dan ini akan menjadi bom waktu jangka panjang jika salah satu merasa kalah.

Jika akhirnya diambil keputusan kompromi, suami dan anak anak ke danau, istri mengunjungi ibunya, hasil yang dicapai hanyalah kesenangan sendiri bukan kebersamaan keluarga.

Jika suami dan istri itu mengambil pendekatan yang berbeda dimana masing masing pihak mau melakukan kebiasaan 5 mengerti terlebih dahulu sebelum dimengerti, maka hasilnya tentu berbeda. Akan ditemukan alternatif solusi yang lebih kreatif dan memenangkan semuanya dengan sempurna, alternatif ke-3. Si Suami benar benar memahami kebutuhan istrinya untuk bersama ibunya. Betapa istrinya ingin membantu saudara perempuannya yang selama ini mengurus ibunya. Begitupun si Istri memahami secara mendalam kebutuhan suaminya untuk memberikan pengalaman yang menyenangkan saat liburan bagi anak anaknya. Betapa pentingnya menciptakan kenangan yang manis bersama mereka.

Akhirnya mereka berada pada sisi yang selaras dan tidak berseberangan. Dan terciptalah beberapa alternatif:

  • Atur waktu dalam bulan yang sama untuk mengunjungi ibunya sementara tugas rumah tangga suami yang menangani.
  • Mencari tempat libur yang dekat dengan rumah ibunya, sekaligus dapat mengajak sepupunya, bibinya, dan pamannya untuk rekreasi bersama.

Yang terjadi di antara suami istri tersebut bukanlah TRANSAKSI tetapi TRANSFORMASI. Mereka mendapatkan apa yang sama sama mereka sangat inginkan dan semakin mematangkan hubungan mereka.

Kunci untuk sinergi antar pribadi adalah sinergi dengan diri pribadi. Sinergi antara otak kanan dan otak kiri. Sinergi antara perasaan dan logika, emosional dan logis. Ketika kita bisa mensinergikan diri sendiri, menjadi pemimpin bagi diri sendiri berdasarkan 4 anugerah ilahi yaitu kesadaran diri, imajinasi, suara hati, dan kehendak bebas, kita menjadi mandiri. Hal ini menjadi dasar bagi mental kelimpahan Menang/Menang (kebiasaan 4) dan komunikasi empatik (kebiasaan 5) untuk mewujudkan sinergi (kebiasaan 6).

Demikian penjelasan tentang episode ke-9 ‘Kebiasaan ke-6, Wujudkan SINERGI‘ yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi tambahan pengetahuan bagi sahabat. Lebih kurangnya mohon maaf.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

https://biolinky.co/ayahucub

Silahkan Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *