[7 HABITS] Episode 01 – Dari Dalam Ke Luar

Assalamu’alaikum wr wb,
Apakabar sahabat ayahucuB dimanapun anda berada, semoga keselamatan selalu menyertai kita semua…aamiin ya rabbal ‘alamiin.

Kali ini saya akan berbagi pengetahuan tentang ‘7 habits’. Pengetahuan ini saya gali dari buku yang berjudul ‘7 Habits of Highly Efective People‘ karangan Stephen R. Covey. ‘7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif’, buku terbitan tahun 1997, sudah 23 tahun usianya. Setelah edisi ini ada beberapa edisi revisi.

Saya akan membagi sharing kali ini menjadi beberapa Episode:
Episode 01 – Dari Dalam Ke Luar
Episode 02 – 7 Kebiasaan – Sebuah Tinjauan Umum
Episode 03 – Jadilah Proaktif
Episode 04 – Merujuk Pada Tujuan Akhir
Episode 05 – Dahulukan Yang Utama
Episode 06 – Berpikir Menang/Menang
Episode 07 – Berusaha Mengerti Terlebih Dahulu Baru Dimengerti
Episode 08 – Wujudkan Sinergi
Episode 09 – Mengasah Gergaji
Episode 10 – Sekali Lagi Dari Dalam Ke Luar

Episode 01 – Dari Dalam Keluar

Stephen R. Covey (selanjutnya Stephen) bercerita, selama 25 tahun dia bekerja bersama orang orang dengan latar belakang kehidupan, bisnis, universitas, perkawinan, dan keluarga, dia menemukan banyak rang yang sukses luar biasa, tetapi mengalami kelaparan batin, kebutuhan akan keselarasan pribadi maupun antar pribadi.
Permasalahan mereka ini mungkin familiar bagi anda. Saya kasih beberapa contoh:
1. Ada yang merasa sukses di karir, menempati jabatan yang memang dicita-citakan tetapi kehidupan pribadinya dan kehidupan keluarganya berantakan. Dia seperti tidak kenal anak maupun tidak kenal istrinya. Bahkan dia sendiri tidak mengenal dirinya tidak tahu apa sih yang penting sebetulnya bagi dia. Jadi sampai dia menganggap keberhasilan seperti apa sih nih, kok sukses tapi nggak sukses dalam rumah tangga.
2. Ada yang telah melakukan diet berulang kali mungkin ini diet yang kelima kalinya, tetapi selalu gagal. Sudah mencoba diet DEBM lah, diet Keto, diet food combining, Vegetarian. Berhasil sih, tapi cuma sementara. Selanjutnya kembali lagi seperti semula walaupun sudah mencoba berbagai macam metode baik itu mental positif afirmasi positif ‘pasti bisa’ dan juga sudah membuat rencana kapan nge-gym, kapan harus makan ini itu, dan akhirnya tidak mampu dieksekusi juga apa yang telah direncanakan. Tidak bisa komit.
3. Ada juga yang stres karena pekerjaan. Setiap hari pekerjaan serasa gak ada habisnya. Sehingga tidak punya waktu, padahal dia sudah mengikuti seminar manajemen waktu sampai menggunakan setengah lusin strategi perencanaan untuk merencanakan pekerjaannya. Tapi tetap tidak bisa mengatur prioritas kerjaan. Hanya sedikit aja pengaruhnya.
4. Ada juga yang yang sudah menikah. Merasa perkawinannya tuh datar. Nggak pernah bertengkar sih tapi sudah nggak ada lagi rasa cinta, hambar. Padahal sudah melakukan konseling pernikahan tetapi tetap tidak ada solusinya.
5. Dan yang terakhir ini banyak yang merasa bahwa hidup itu nggak ada perubahan, gitu-gitu aja. Berangkat pagi pulang sore. Monoton hidupnya, rutinitas yang membosankan.

Permasalahan-permasalahan itu enggak bisa dipecahkan dengan cara biasa, dengan pendekatan perbaikan yang instan, segera. Albert Einstein pernah bilang seperti ini:

Kegilaan adalah melakukan sesuatu dengan cara yang sama secara berulang-ulang tapi mengharapkan hasil yang berbeda.

Jadi pada saat kita memiliki permasalahan yang belum ketemu pemecahannya namun kita masih menggunakan cara yang sama (mungkin berbeda secara teknis tapi secara prinsip fundamental nya sama) ya nggak akan bisa selesai masalahnya. Itu namanya kegilaan, kata Einstein.

Kisah Putra Stephen

Stephen pernah bergulat dengan permasalahan serupa. Kekhawatiran dia terhadap putranya yang dianggap terbelakang.

  1. Putranya ini secara akademis buruk sekali nggak tahu bagaimana cara membaca petunjuk mengerjakan soal. Bagaimana mau mengerjakan soalnya, memahami petunjuk aja cara mengerjakannya aja tidak paham.
  2. Tidak matang secara sosial, suka membuat malu orang sekitar.
  3. Dan di bidang olahraga dalam hal ini Base Ball yang ditekuninya, dia lemah sekali. Koordinasi badannya nggak bagus. Jadi bola belum sampai, dia udah mukul. Sebegitu tidak terkoordinasi badannya. Sehingga dia suka diolok-olok oleh teman-temannya.

Stephen dan istrinya melakukan teknik mental positif terhadap anaknya.

Dia menyemangati anak nya ‘Nak kamu bisa. Kamu pasti bisa. Ayo kamu bisa.’

Saat anaknya bisa melakukan sesuatu walaupun kecil, Stephen menyemangati ‘bagus sekali, pertahankan. Kamu bisa semakin baik’.

Lalu andaikata ada temannya yang mengolok-olok nya atau menertawakannya, Stephen menegurnya ‘Jangan ganggu dia. Dia sedang belajar.’

Cara cara yang Stephen lakukan ternyata tidak berdampak signifikan terhadap anaknya. Bahkan malah membuat anaknya semakin tidak percaya diri. Karena sepertinya anaknya juga nggak suka dengan olahraga Baseball. Stephen merasa gagal melakukan perubahan terhadap anaknya.

Efek Pygmalion

Seiring perjalanan waktu, Stephen kan seorang profesional. Dia terlibat dalam proyek pengembangan kepemimpinan eksekutif di IBM. Dia sedang mempersiapkan presentasi. Pada saat dia membuat presentasi, dia tertarik melakukan studi tentang persepsi.

Dan dia tertarik pada studi ‘Efek Pygmalion’. Efek pygmalion ini adalah pengetahuan tentang persepsi.  Persepsi itu bisa mempengaruhi perilaku. Pada saat kita ber persepsi baik, berpersepsi bagus atau positif thinking kepada seseorang dengan good feeling juga ya, maka persepsi kita akan menciptakan realitas. Orang itu akan menjadi seperti apa yang kita pikirkan. Kalau mau di ceritakan sejarahnya Pygmalion itu ada dalam cerita mitologi Yunani. Dia seorang pemuda yang selalu berpikir positif. Dia enggak pernah berpikir negatif.

Contoh pada saat banyak orang yang mengeluh. ‘Ini lapangan koq becek banget sih.’

Pygmalion akan bilang, ‘Masih untung ada lapangan lain yang tidak becek lho.’

Lalu ada anak kecil yang nyolong apel, mencuri apel. Orang lain akan berkomentar, ‘Anak-anak itu pencuri, punya sifat yang buruk.’

Tapi Pygmalion berpikir lain, ‘Kasihan anak itu. Mungkin anak itu tidak mendapatkan pendidikan. Dan mungkin juga sedang lapar.’

Contoh lain lagi. Ada seorang pelanggan. Pelanggan yang nawar kebangetan. Jadi seolah-olah dia itu pelit sama duit. Banyak yang komen, ‘Orang itu pelit sekali sih. Nawarnya kebangetan.’

Tapi Pygmalion berbeda komentarnya, ‘Mungkin dia memang sedang membutuhkan duit banyak untuk hal yang lebih penting. Makanya dia menawar seperti itu.’

Sampai suatu ketika, Pygmalion membuat sebuah patung dari kayu. Itu memang keahliannya membuat patung. Dia membuat patung dari kayu, patung seorang wanita yang ukurannya sama persis dengan ukuran wanita dewasa. Jadilah patung itu, cantik. Suatu ketika, ternyata Pygmalion menyukai hasil patung buatannya. Dia menyukai, mencintainya. Dia merawat patung itu dengan sungguh sungguh. Seperti istri sendiri aja. Sampai hal tersebut didengar oleh Dewa di Gunung Olympus. Dewa mengetahui hal tersebut dan Dewa memberikan Anugerah kepada pygmalion dengan menjadikan patung itu menjadi manusia. Jadi kayak kisah Pinokio gitu, jadi manusia dan menjadi wanita yang cantik. Pygmalion akhirnya menikahinya. Nama wanita itu adalah Galatea. Kabarnya Galatea adalah wanita tercantik di Yunani pada zamannya.

Dari studi ‘Efek Pygmalion’ ini, Stephen baru menyadari bahwa persepsinya selama ini ke anaknya tidak selaras dengan sikap Stephen ke anaknya. Setelah diteliti lebih dalam perasaannya ke anaknya ternyata dia menganggap anaknya itu tidak mampu, terbelakang, agak kurang, harus dilindungi. Walaupun perilaku yang dilakukan positif, tetapi bahasa yang sampai, komunikasi yang sampai ke anaknya adalah kamu tuh nggak bisa. Kamu harus dilindungi. Kamu nggak mampu. Jadi otomatis si anak menjadi tidak berkembang dan kepercayaan dirinya semakin rendah.

Etika Kepribadian vs Etika Karakter

Selain studi tentang Efek Pygmalion, Stephen juga asyik melakukan studi literatur tentang keberhasilan. Stephen meneliti esai, buku buku, sumber sumber pengetahuan yang terbit sejak tahun 1776 sampai tahun 1976. Konsep keberhasilan orang zaman dahulu seperti apa sih? Lalu setelah dia mempelajarinya, ternyata sejak tahun 1776 sampai 150 tahun kemudian pada tahun 1926 yang banyak dibicarakan adalah tentang ETIKA KARAKTER. Dan sejak tahun 1926 sampai 1976, 50 tahun kemudian yang banyak dibicarakan tentang ETIKA KEPRIBADIAN.

Apa sih bedanya? Kalau bisa saya analogikan itu seperti pohon.

  • AKARNYA adalah Etika KARAKTER, DAUNnya adalah Etika KEPRIBADIAN.
  • Akar berbicara tentang BATINIAH, AKHLAK. Sementara Daun berbicara tentang LAHIRIAH, PERILAKU dan SIKAP.
  • KARAKTER berada pada wilayah Hati Positif, sementara KEPRIBADIAN pada wilayah penampilan positif.
  • Jujur, ikhlas, adil, sederhana, sabar, rendah hati, itu karakter.
  • Senyum, berdasi, berkata kata sopan, berkata positif, berperilaku positif, itu kepribadian.
  • Karakter lebih pada PRINSIP yang ABADI, sementara KEPRIBADIAN lebih ke teknik instant, tips and tricks.
  • Contohnya senyum saat bertemu pelanggan walaupun hatinya kesel sama Pelanggan. Berpakaian rapi biar bisa menarik perhatian orang.

Stephen sadar bahwa dialah yang harus berubah terlebih dahulu, bukan anaknya. Dia sadar harus merubah Karakternya yang saat itu masih bersumber pada Etika Kepribadian. Karena Stephen lahir di era Etika Kepribadian berkembang.

Dengan merubah karakter akan berubah merubah perilaku dan sikapnya. Stephen mulai melihat anaknya berbeda dengan yang lain. Stephen mulai melihat potensi terbaik anaknya. Tugas dia hanya meneguhkannya, menyenanginya, dan menghargainya. Tidak lagi membandingkannya dengan Citra sosial bahwa anaknya harus baik di mata sosial, harus baik secara akademis, harus baik secara olahraga.

Hasilnya luar biasa, perlahan lahan anaknya mengalami perubahan ke arah kebaikan. Nilai Akademis anaknya A, dia menjadi pemimpin organisasi kemahasiswaan juga, dan dia menjadi atlet nasional. Sukses.

Paradigma dan Prinsip

PARADIGMA adalah Pola Pikir, Sudut Pandang kita terhadap sesuatu. Paradigma bisa diumpamakan sebagai PETA terhadap suatu WILAYAH. Peta hanya menggambarkan Wilayah pada periode tertentu, bukan Wilayah itu sendiri. Bisa jadi saat Wilayahnya sudah berubah Petanya belum berubah. Atau bisa jadi Petanya salah tulis nama kotanya. Misal kita mau ke Chicago tetapi kita diberi Peta Detroit yang tertulis Chicago (salah tulis). Apa yang terjadi saat kita menggunakan Peta tersebut untuk pergi ke Chicago?

PERILAKU (Tindakan) yang akan kita ambil adalah berusaha lebih keras, lebih giat, lebih cepat, untuk sampai ke sana. Namun yang terjadi apa? KESASAR.

SIKAP yang kita ambil adalah tetap berpikir positif, tetap bahagia, dalam KETERSASARAN ke tujuan.

Nah pelajarannya adalah sepositif apapun SIKAP dan PERILAKU yang kita lakukan kalau PETAnya salah, PARADIGMAnya salah, ya tetap saja kita KESASAR, tidak mencapai TUJUAN.

Berapa Usia Wanita Dalam Gambar?

Berikut contoh bagaimana gambar yang sama bisa berbeda orang melihatnya.

2 Kelompok mahasiswa diberi 2 gambar berbeda, no 1 dan no 2 untuk dilihat selama 10 detik. Lalu gambar no 3 dimunculkan ke Layar. Mereka diminta menguraikan gambar tersebut. Dan yang terjadi adalah perdebatan Mahasiswa yang melihat Wanita Muda dan Nenek Tua.

Jika PENGKONDISIAN selama 10 detik saja bisa berdampak seperti ini, bagaimana seumur hidup? Begitu KUATnya pengkondisian mempengaruhi PARADIGMA dan akhirnya mempengaruhi SIKAP dan PERILAKU.

Jika anda diminta untuk membantunya menyeberang jalan, SIKAP dan PERILAKU apa yang akan anda lakukan? Jika yang anda lihat adalah:

  • Wanita Tua, mungkin anda akan membantunya
  • Wanita Muda, mungkin anda tidak akan membantunya, kecuali ada maksud lain 😜

Melihat sesuatu sebagaimana adanya (Objektif) bukan sebagaimana kita adanya (Subjektif)

Kisah Perubahan Paradigma di Gerbong Kereta

Suasana tenang, damai, ada yang sedang membaca koran, melamun, tidur. Tiba tiba masuk seorang Pria dan anak-anaknya, begitu ribut dan berisik, merubah suasana. Pria tersebut memejamkan mata seolah tak perduli. Anak anaknya berteriak, merebut koran, melempar barang, mengganggu orang.

“Tuan, anak anda benar2 mengganggu banyak orang, dapatkah anda mengendalikan mereka sedikit?”

Pria itu tersadar lalu berkata dengan sedih, ”Oh anda benar, saya harus berbuat sesuatu. Kami baru saja pulang dari Rumah Sakit dimana ibu mereka meninggal satu jam yang lalu. Saya tidak tahu harus berpikir apa, dan saya kira mereka juga tidak tahu bagaimana harus menghadapinya.”

Seketika seisi gerbong berubah paradigmanya dan bersimpati.

Perubahan Paradigma Kejengkelan berubah menjadi Simpati.

Kisah Perubahan Paradigma Kapten Kapal Perang

Kisah nyata ini mengenai seorang komandan kapal perang yang mengalami perubahan cara pikir karena berhadapan dengan realita baru. Kisahnya terjadi ketika kapal perang AS melakukan latihan perang. Begitu malam tiba, kapal perang tersebut menembus kabut tebal, ketika pengintai melaporkan adanya cahaya lampu.

Kapten kapal menyuruh mengirim pesan : “Kita mau tabrakan. Harap Anda putar 20 derajat.”

Dari balik kabut datang jawaban : “Anda yang harus putar haluan”.

Kapten membalas pesan “Saya kapten, putar haluan Anda 20 derajat.”

Balasan dari seberang : “Saya kelasi, sebaiknya Anda putar haluan.”

Kapten geram dan mengirim pesan lagi : “Ini kapal perang ! Putar haluan 20 derajat !”

Kelasi : “Ini Mercusuar!”

Dari kisah di atas dapat diambil pelajaran:

  • Kabut seperti layaknya PARADIGMA yg terbatas.
  • Mercusuar seperti layaknya PRINSIP. Seperti PRINSIP-PRINSIP UNIVERSAL yg terkandung dalam ajaran Agama.
  • PRINSIP layaknya HUKUM ALAM yang tidak bisa dilanggar seperti HUKUM GRAVITASI.
  • PRINSIP = Wilayah, NILAI = Peta, PETA bukanlah WILAYAH.

Kesimpulan

  • Cara kita melihat masalah adalah masalah itu sendiri.
  • Albert Einstein pernah berkata:

Masalah penting yg kita hadapi saat ini, tidak dapat kita pecahkan pada tingkat berpikir yang sama ketika kita menciptakan masalah tersebut.

  • 7 Habits dapat menjadi tingkatan baru dalam pola berpikir. Pendekatan yg:
    • Berpusat pada PRINSIP.
    • Berdasar KARAKTER.
    • Proses perubahannya DARI DALAM KE LUAR.

Jika ingin memiliki Perkawinan yang Bahagia, JADIlah Pasangan yg Membahagiakan.
Jika ingin memiliki Anak yang Menyenangkan, JADIlah Orangtua yg Menyenangkan.
Jika ingin dihormati oleh Karyawan, JADIlah Pemimpin yg Menghormati.
Perubahan dimulai dari Dalam Diri baru ke Luar Diri.

Demikian penjelasan tentang episode ‘Dari Dalam Ke Luar‘ yang dapat saya sampaikan. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi tambahan pengetahuan bagi sahabat. Lebih kurangnya mohon maaf.

Merubah PARADIGMA akan merubah PENGLIHATAN akan merubah PERASAAN akan merubah PERILAKU yang akhirnya bukan mustahil akan merubah NASIB.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

https://biolinky.co/ayahucub

Silahkan Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *